
Pada pagi hari yg cerah, matahari yg indah hangat menyapa alam. Terdapat seekor ular betina sedang berjemur setelah mandi di kali. Sisiknya yg indah menarik perhatian sang lalat yg sedang terbang di atasnya.
" amboy cantik nian kau ular... sisikmu sungguh indah... suuittt ssuuiittt.... "
melihat lalat, sang ular terperanjat. Dia kaget dan kemudian segera berlari mencari tempat persembunyianya. Pipinya merona, dia malu.
Akhirnya dia menemukan sebuah persembunyian yg dianggapnya nyaman. Di antara semak belukar. Dia tak menyadari kalau di sana adalah tempat tinggal sang nenek sihir. Nenek sihir meyakini kalau ada ular masuk rumahnya akan bertanda bahaya. Maka yg dia lakukan adalah memukul gendang sampai bunyi bertalu-talu. Ini adalah cara membebaskan dari mala petaka. Di luar sana tak disadari kalau ada sang kura2 yg sedang berjalan di depan rumah nenek sihir. Mendengar bunyi gendang, kura2 tsb berjoget2 kegirangan. Tak disadari kalau ternyata ada sang gajah yg sedang memperhatikannya. Tanpa basa basi dia menginjak batok kura2 itu sampai terdapat percikan api. Api itu mengenai gubuk nenek sihir yg terbuat dari jerami. Sekejap saja rumah nenek sihir hangus terbakar. Asap membumbung tinggi di udara. Awan berubah jadi hitam dan gelap. Turunlah hujan yg sangat lebat.
Matahari mulai menyumbul dari sisa2 awan setelah hujan turun berhari2. Matahari pagi hangat menyambut tanaman2 muda yg tumbuh subur. Peristiwa ini tak dilewati begitu saja oleh ibu semut. Setelah hujan berhari2 ia kemudian menjemur telur2 miliknya. Tibalah seekor tenggiling bangun dr tidurnya. menyadari ada santapan yg lezat di depannya, tanpa pikir panjang dilahapnya telur2 itu. Sang ibu semut pun marah, dia melaporkan kejadian ini pada sang raja hutan yg tak lain adalah harimau. sambil terseguk2 dia menangis.
(continue)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar